Tiga Alasan Mengapa Mahasiswa Jepang Tidak Tekun Belajar

Tiga Alasan Mengapa Mahasiswa Jepang Tidak Tekun Belajar

Learning

(Flickr)

Jepang terkenal akan kualitas pendidikannya yang cukup tinggi, tetapi apakah kalian tahu bahwa mahasiswa Jepang sebenarnya tidak tekun belajar? Banyak yang bilang bahwa pendapat ini tidak benar, tetapi setelah pergi ke dua universitas yang berbeda di Jepang, saya akhirnya mengetahui mengapa mahasiswa Jepang tidak belajar dengan tekun.

1. Nilai Rapor Yang Bagus Tidak Menjamin Hidup Mereka

Learning

(Pixabay)

Berbeda dengan negara Barat seperti Amerika dan Eropa, nilai rapor yang bagus tidak menjamin hidup para mahasiswa di Jepang. Di Amerika dan Eropa, rata-rata nilai rapor para mahasiswa harus di atas 90% untuk masuk ke perusahaan-perusahaan terkenal, sedangkan di Jepang hal tersebut tidak berlaku.

Untuk masuk ke perusahaan terkenal, setiap mahasiswa wajib mendapatkan nilai tinggi tes pengetahuan umum SPI yang dipakai oleh kebanyakan perusahaan, dan mahasiswa bisa mempersiapkan diri mereka untuk bisa lulus tes ini.

2. Beasiswa di Jepang Kebanyakan Tidak Gratis

Learning

(Flickr)

Pengertian beasiswa di Jepang dan di luar negeri sangatlah berbeda. Walaupun beasiswa di sebut sebagai 奨学金 (Shogakukin), yang dalam Bahasa Indonesia berarti beasiswa, kebanyakan beasiswa di Jepang tidak gratis. Beasiswa di Jepang kebanyakan hadir dalam bentuk pinjaman dengan bunga rendah, dimana para mahasiswa bisa meminjamnya selama kuliah dan mengembalikannya setelah mereka mulai bekerja.

Pinjaman beasiswa ini tidak memerlukan tes, dan keuntungan bagi para mahasiswa yang memiliki rata-rata nilai rapor bagus hanyalah pembebasan bunga dari pinjaman beasiswa saja. Apabila para mahasiswa tidak bisa mengelola keuangan mereka dengan benar, kehidupan mereka setelah lulus kuliah akan menjadi sulit karena selain harus mencari uang untuk biaya hidup, mereka juga harus mengembalikan uang beasiswa yang telah dipinjam setiap bulannya.

Sedangkan untuk mendapatkan beasiswa di negara lain, para mahasiswa tidak hanya memerlukan rata-rata nilai rapor yang bagus, tetapi juga nilai tes dan kemampuan untuk menjaga rata-rata nilai rapor tetap bagus selama menerima beasiswa.

3. Kelas di Jepang Sangatlah Pasif

Learning

(Pixabay)

Kelas di Jepang sangatlah pasif. Hal ini benar-benar saya rasakan ketika mengambil mata kuliah untuk gelar S2 saya.

Saya belajar di sebuah universitas di Jepang yang mengikuti kurikulum Amerika untuk gelar S1 saya. Semua kelas pasti memiliki sesi diskusi, dan hampir setiap hari saya harus berdiri di depan kelas untuk presentasi. Selain diskusi dan presentasi, beberapa mata kuliah juga mewajibkan para partisipan untuk berdebat tentang semua topik.

Sedangkan untuk gelar S2 saya, saya belajar di sebuah universitas swasta terkenal di Jepang yang memberikan mata kuliah dalam bahasa Inggris. Walaupun mata kuliah diberikan dalam bahasa Inggris, kelas di universitas ini sangatlah pasif karena universitas ini tidak mengikuti kurikulum Amerika. Dosen memberikan mata kuliah seperti membacakan cerita dari sebuah buku, dan murid pada akhirnya disuruh membuat laporan tentang mata kuliah tersebut. Diskusi dan presentasi hanya dilaksanakan seminggu sekali, dan sesi untuk berdebat hampir tidak ada.

Melihat kembali tiga hal di atas, sebenarnya mengatakan “Mahasiswa Jepang Tidak Tekun Belajar” itu salah, karena sebenarnya pemerintah Jepang dan lingkungan sosial Jepang yang membuat para mahasiswa ini tidak tekun belajar. Apabila pemerintah mengubah sistem rekrutmen dan beasiswa di Jepang, serta mengubah kurikulum di Jepang, pastinya mahasiswa Jepang akan berubah menjadi lebih tekun untuk belajar karena termotivasi.

Bethari

Gaya hidupカテゴリの最新記事

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.